![]() |
Devi Asmadireja |
Adalah
Devi Asmadiredja (45 tahun) seorang wanita Sunda (Bapak Sunda ibu Jerman)
dengan nama lengkap Ariane Ratna Aju Dewi E. Asmadiredja. Kisah hidupnya bak
sebuah cerita film. Dimana ia di usir sang suami dan terpaksa meninggalkan sang
anak kemudian pergi merantau dan terdampar di sebuah tempat yang sama
sekali asing baginya. Wanita berdarah Sunda ini kini tinggal disebuah gubuk
terpencil dikawasan pegunungan antara Chechnya dan lembah Georgia, Pakinsi.
Dia
menolak untuk pindah ke kota dan memilih tetap tinggal di gunung. Kemampuan
berbahasanya juga meningkat, tak hanya Chechnya, ia mampu nmenguasai bahasa
Georgia setelah diajari oleh para penggembala asal Tush dan Khevsur.
Selama beberapa bulan, Devi menghafal setiap sudut jalur dari Pankisi ke pegunungan. Ia mampu berjalan kaki hingga berhari-hari. Pernah hampir mati gara-gara tak makan selama 12 hari sebelum ditemukan oleh seseorang yang kebetulan melintas. "Aku sangat dekat dengan kematian saat itu," tuturnya.
Kedekatannya dengan alam pegunungan nan elok di perbatasan Chechnya dan Georgia, membuka potensi lain. Devi ditawari bekerja oleh sebuah agen perjalanan Jerman, menjadi pemandu bagi para pendaki yang melalui jalur Kaukasus dengan gaji $100 per hari.
Di gunung pula, Devi menemukan cinta keduanya. Dia bertemu dengan seorang penggembala asal Georgia bernama Dato. Mereka menikah.
Devi dan suaminya kini menjadi pemandu wisata. Pernikahan mereka dilangsungkan secara siri karena wanita berdarah Sunda ini masih terikat pernikahan resmi dengan suami pertamanya.
Selama beberapa bulan, Devi menghafal setiap sudut jalur dari Pankisi ke pegunungan. Ia mampu berjalan kaki hingga berhari-hari. Pernah hampir mati gara-gara tak makan selama 12 hari sebelum ditemukan oleh seseorang yang kebetulan melintas. "Aku sangat dekat dengan kematian saat itu," tuturnya.
Kedekatannya dengan alam pegunungan nan elok di perbatasan Chechnya dan Georgia, membuka potensi lain. Devi ditawari bekerja oleh sebuah agen perjalanan Jerman, menjadi pemandu bagi para pendaki yang melalui jalur Kaukasus dengan gaji $100 per hari.
Di gunung pula, Devi menemukan cinta keduanya. Dia bertemu dengan seorang penggembala asal Georgia bernama Dato. Mereka menikah.
Devi dan suaminya kini menjadi pemandu wisata. Pernikahan mereka dilangsungkan secara siri karena wanita berdarah Sunda ini masih terikat pernikahan resmi dengan suami pertamanya.
Di
Tolak Menjadi WNI
Devi
Asmadiredja, wanita yang terdampar di Chechnya, ternyata pernah mengajukan diri
untuk menjadi warga negara Indonesia. Namun permohonannya itu ditolak oleh
Kedutaan Besar Indonesia di Georgia.
Dalam surat elektroniknya kepada Tempo, Devi mengaku telah mengajukan permohonan sebagai WNI pada empat tahun lalu. Dia telah membawa setumpuk berkas untuk melengkapi permohonannya. "Namun KBRI menyatakan sulit bagi saya menjadi WNI, karena orang tua saya tak menikah resmi.
Dia melanjutkan, untuk menjadi warga negara Indonesia, proses yang harus dilalui cukup berliku. Pihak kedutaan menyatakan dia harus menunggu selama 18 tahun. Masa tunggu itu bisa dipercepat bila dia memiliki cukup uang di rekeningnya. "Saya minta sejak 4 tahun lalu, tapi saya bukan orang kaya. Mereka menolaknya," kata Devi yang kini berusia 45 tahun itu.
Perempuan bernama asli Ariane Ratna Aju Dewi E. Asmadiredja ini adalah warga negara Jerman. Ayahnya merupakan warga negara Indonesia berdarah Sunda.
Devi terdampar di Pankisi, pegunungan di perbatasan antara Chechnya dan lembah Georgia. Kisah Devi membetot perhatian jurnalis BBC yang menuliskan kisahnya dalam sebuah artikel panjang berjudul "The woman Who Swapped Home for a Hut Near Chechnya."
Sebelum menjejaki kaki di Pankisi, Devi bermukim di Jerman. "Saya lahir dan besar di Jerman," katanya.
Ia pernah menikah dengan seorang pria keturunan Chechnya dan hidup di Jerman bersama tiga anaknya. Empat tahun lalu, sang suami meminta Devi ke Chechnya untuk belajar bahasa leluhurnya.
Delapan belas bulan berlalu, sang suami mengabarkannya bahwa Devi tak perlu kembali lagi ke Jerman. Ia telah berpaling ke wanita lain.
Keindahan alam di Pankisi membuat Devi memutuskan menetap di sana. Tanpa bekal uang yang cukup, ia harus berjuang mengatasi rasa lapar. Pernah ia tak bertemu makanan selama 12 hari dan hampir mati kelaparan. Beruntung ia ditemukan oleh seorang penggembala yang memberinya makanan.
Devi kerap berjalan sendirian menyusuri labirin pegunungan di Georgia. Hal itu membuatnya mengenal seluk beluk negeri ini. Hingga akhirnya sebuah perusahaan jasa pariwisata, memintanya menjadi pemandu turis-turis yang ingin mengunjungi wilayah itu. Maklum, selain mengenal dengan baik kawasan tersebut, dia juga fasih beberapa bahasa di antaranya Inggris, Jerman, Chechnya dan Georgia. Kini Devi telah menikah lagi. Bersama suami keduanya, ia menjalankan jasa wisata.
Meski tak pernah bermukim lama di Indonesia, Devi kerap merindukan negeri tanah leluhur ayahnya itu. "Tapi saya tak punya cukup uang untuk datang ke Indonesia," katanya. Sebagai pemandu wisata, Devi mendapat gaji sebesar US$ 100 per hari.
Dalam surat elektroniknya kepada Tempo, Devi mengaku telah mengajukan permohonan sebagai WNI pada empat tahun lalu. Dia telah membawa setumpuk berkas untuk melengkapi permohonannya. "Namun KBRI menyatakan sulit bagi saya menjadi WNI, karena orang tua saya tak menikah resmi.
Dia melanjutkan, untuk menjadi warga negara Indonesia, proses yang harus dilalui cukup berliku. Pihak kedutaan menyatakan dia harus menunggu selama 18 tahun. Masa tunggu itu bisa dipercepat bila dia memiliki cukup uang di rekeningnya. "Saya minta sejak 4 tahun lalu, tapi saya bukan orang kaya. Mereka menolaknya," kata Devi yang kini berusia 45 tahun itu.
Perempuan bernama asli Ariane Ratna Aju Dewi E. Asmadiredja ini adalah warga negara Jerman. Ayahnya merupakan warga negara Indonesia berdarah Sunda.
Devi terdampar di Pankisi, pegunungan di perbatasan antara Chechnya dan lembah Georgia. Kisah Devi membetot perhatian jurnalis BBC yang menuliskan kisahnya dalam sebuah artikel panjang berjudul "The woman Who Swapped Home for a Hut Near Chechnya."
Sebelum menjejaki kaki di Pankisi, Devi bermukim di Jerman. "Saya lahir dan besar di Jerman," katanya.
Ia pernah menikah dengan seorang pria keturunan Chechnya dan hidup di Jerman bersama tiga anaknya. Empat tahun lalu, sang suami meminta Devi ke Chechnya untuk belajar bahasa leluhurnya.
Delapan belas bulan berlalu, sang suami mengabarkannya bahwa Devi tak perlu kembali lagi ke Jerman. Ia telah berpaling ke wanita lain.
Keindahan alam di Pankisi membuat Devi memutuskan menetap di sana. Tanpa bekal uang yang cukup, ia harus berjuang mengatasi rasa lapar. Pernah ia tak bertemu makanan selama 12 hari dan hampir mati kelaparan. Beruntung ia ditemukan oleh seorang penggembala yang memberinya makanan.
Devi kerap berjalan sendirian menyusuri labirin pegunungan di Georgia. Hal itu membuatnya mengenal seluk beluk negeri ini. Hingga akhirnya sebuah perusahaan jasa pariwisata, memintanya menjadi pemandu turis-turis yang ingin mengunjungi wilayah itu. Maklum, selain mengenal dengan baik kawasan tersebut, dia juga fasih beberapa bahasa di antaranya Inggris, Jerman, Chechnya dan Georgia. Kini Devi telah menikah lagi. Bersama suami keduanya, ia menjalankan jasa wisata.
Meski tak pernah bermukim lama di Indonesia, Devi kerap merindukan negeri tanah leluhur ayahnya itu. "Tapi saya tak punya cukup uang untuk datang ke Indonesia," katanya. Sebagai pemandu wisata, Devi mendapat gaji sebesar US$ 100 per hari.
Sumber
gambar : BBC News Magazine
Artikel
: Tempo
No comments:
Post a Comment