Menjadi
seorang profesor di kampus luar negeri bukanlah perkara mudah. Misalnya saja
ketika Anda direkrut oleh kampus, maka Anda tidak serta merta menjadi profesor
sepenuhnya di sana. Ada banyak tahapan yang mesti dilalui, seperti menjadi
Profesor Asisten terlebih dahulu (dalam waktu sekitar enam tahun), setelah itu
dievaluasi hasil pengajaran, penelitian dan pengabdiannya. Jika hasil
evaluasinya baik, maka Anda akan diangkat menjadi Lektor Kepala (di beberapa
tempat disebut sebagai Profesor Madya atau Associate Professor),
kemudian dievaluasi kembali hingga memenuhi standar menjadi seorang Profesor. Ya,
membayangkan prosesnya saja sudah cukup sulit, namun, banyak anak bangsa kita
mendapatkan hasil evaluasi yang sangat baik dan layak menjadi profesor di kampus
luar negeri.
Inilah
daftar (beberapa) ilmuwan Indonesia yang menjabat sebagai profesor di kampus
luar negeri, dan patut kita apresiasi sepak terjangnya:
·
Nelson
Tansu
Bila
Anda pengguna lampu LED di rumah dan merasa sangat terbantu dengan kehadiran
teknologi tersebut, maka Anda mesti berterima kasih kepada Nelson Tansu, karena
dia telah berkontribusi dalam penemuan di bidang semikonduktor yang kemudian
digunakan untuk teknologi LED. Nelson merupakan seorang Professor of
Electrical and Computer Engineering di Leehigh University, Amerika Serikat.
Ia memulai karir sebagai Profesor Asisten di Lehigh University. Sebelumnya, Ia
merupakan lulusan terbaik dari Yayasan Perguran Sutomo 1 Medan, yang kemudian
melanjutkan studi S1 hingga S3 di Universitas Wisconsin, Amerika Serikat. Ia
juga telah mempublikasikan lebih dari 220 jurnal dan konferensi ilmiah
internasional (2011) tentang semikonduktor, optoelektronika, fotonika,
dan nanoteknologi, kemudian memiliki 8 paten dalam bidang nanoteknologi dan
optoelektronika dari kantor paten Amerika Serikat.
Masih
di kota kelahiran yang sama dengan Nelson Tansu, di tempat ini, Teruna J.
Siahaan menempuh jenjang SD hingga SMA, kemudian menyelesaikan program sarjana
dan magister di Jurusan Kimia, Universitas Indonesia (UI). Pada tahun 1986, Ia
mendapatkan gelar Ph.D. di bidang Kimia Organik di Department of Chemistry,
University of Arizona, Amerika Serikat. Ia juga melanjutkan training sebagai Postdoctoral
Fellow di Department of Chemistry, University of California, kemudian
memulai karir akademiknya sebagai Profesor Asisten di Universitas Kansas dan
dipromosikan secara bertahap ke jenjang Associate Professor, Full, dan
Distinguished Professor. Saat ini beliau telah mempublikasikan sekitar 174
artikel, 20 buku, 12 catatan, 2 buku, dan 12 paten.
Siapa
sangka, salah satu lulusan sarjana dari kampus dalam negeri kita berhasil
menjabat sebagai Wakil Dekan di kampus ternama, Nanyang Technological
University? Dialah Harianto Rahardjo, yang telah menyelesaikan program sarjana
di Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian memperoleh
gelar M.Sc. dan Ph.D. dalam Rekayasa Geoteknik dari University of Saskatchewan,
Kanada. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Dekan / Kepala Asosiasi (Penelitian)
di Sekolah Teknik Sipil & Lingkungan, Direktur NTU-PWD Pusat Penelitian
Geoteknik, Kepala Divisi Sistem Infrastruktur dan Studi Kelautan, Nanyang
Technological University (NTU), Singapura.
Setelah
melihat beberapa ilmuwan Indonesia yang berkiprah di benua Amerika dan Asia,
sekarang mari kita melirik ke benua Australia, tepatnya di kota Wollongong. Dia
adalah Danny Sutanto, yang telah berhasil mendapatkan gelar B.Eng-nya. dan
Ph.D. dari University of Western Australia. Setelah lulus, Ia bergabung dengan
Proyek GEC Australia sebagai Analis Sistem Daya. Pada tahun 1996, Ia menjabat
sebagai Profesor Teknik Listrik di Hong Kong Polytechnic University. Kemudian
pada tahun 2006, Ia menjadi Profesor Teknik Listrik di Sekolah Teknik Listrik,
Komputer dan Telekomunikasi, Universitas Wollongong.[4]Meskipun tidak cukup terkenal seperti Nelson
Tansu, namun, kiprahnya di dunia pendidikan tidak kalah hebatnya. Tercatat
bahwa penghargan Outstanding Performance in Teaching pernah diraih
olehnya di HK Polytechnic University, lalu dia pun sempat menjadi anggota Dewan
Penasihat Internasional untuk beberapa konferensi internasional
·
Nawi Ng
Nawi
Ng adalah Profesor Epidemiologi dan Kesehatan Global di Departemen Kesehatan
Masyarakat dan Kedokteran Klinis, Fakultas Kedokteran, Universitas Umeå,
Swedia. Ia menerima gelar Doktor Medis dari Universitas Gadjah Mada Indonesia,
dan pelatihan MPH dan PhD di Universitas Umeå Swedia. Penelitiannya berfokus
pada epidemiologi faktor risiko penyakit kronis, kesehatan orang dewasa dan
penuaan di negara berpenghasilan rendah dan menengah di Afrika dan Asia, serta
di Swedia.[6] Bila Anda tertarik dengan penelitian tersebut
dan ingin melanjutkan kuliah di benua Eropa, maka jangan sungkan untuk
menghubungi Profesor Nawi Ng.
No comments:
Post a Comment